Cari Blog Ini

Rabu, Juni 16, 2010

Evaluasi Pembelajaran

BAB I

PENDAHULUAN


Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai, dan merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengomunikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambilan keputusan. Yang pula dapat diartikan sebagai proses penilaian pertumbuhan siswa dalam proses belajar mengajar.

Kegiatan evaluasi dalam proses belajar mengajar mempunyai beberapa karakteristik penting, diantaranya :

1. Memiliki implikasi tidak langsung terhadap siswa yang dievaluasi.

2. Lebih bersifat tidak lengkap.

3. Mempunyai sifat kebermaknaan relatif.

Disamping karakteristik, evaluasi juga mempunyai fungsi, yaitu sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan yang telah diberikan; Untuk mengetahui aspek kelemahan peserta didik dalam proses belajar; Mengetahui tingkat ketercapaian siswa.

Dalam bidang pendidikan, evaluasi memiliki prinsip-prinsip diantaranya, evaluasi harus masih dalam kisi-kisi kerja tujuan yang telah ditentukan, dilaksanakan secara komprehensif, kooperatif antara guru dan peserta didik, kontinu, dan evaluasi harus peduli dan mempertmbangkan nilai-nilai yang berlaku.

Evaluasi pendidikan pada prinsipnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga cakupan penting, yaitu evaluasi pembelajaran, evaluasi program, dan evaluasi sistem. Dan secara garis besar evaluasi pembelajaran dibedakan menjadi tiga macam luasan, yaitu pencapaian akademik, kecakapan (aptitude), dan penyesuaian personal sosial.

Sebelum diterapkan kepada siswa suatu evaluasi harus memenuhi syarat yaitu, valid, andal, objektif, seimbang, membedakan, norma, fair, dan praktis. Proses evaluasi diadakan untuk menilai ketercapaian tujuan, mengukur aspek belajar, mengetahui apa yang siswa telah ketahui, memotivasi belajar siswa, menyediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling, dan menjadi dasar acuan perubahan kurikulum. Proses evaluasi dapat dilakukan dengan metode tes dan nontes. Dimana metode tes direalisasikan dengan tes tertulis atau tes lisan, dan metode nontes yaitu dengan mengevaluasi penampilan dan aspek-aspek belajar efektif dari siswa.


BAB II

EVALUASI PEMBELAJARAN


A. PERANAN EVALUASI PEMBELAJARAN

Ada tiga faktor yang perlu dipahami dalam proses pembelajaran yang memiliki prosisi strategis guna membawa siswa dapat melakukan perubahan perilaku, yaitu metode evaluasi, cara belajar, dan tujuan pembelajaran. Perubahan perilaku yang telah direncanakan dapat diungkapkan melalui proses evaluasi yang dibedakan menjadi proses testing, dan proses nontesting.

Proses evaluasi pun harus terintegrasi pada batasannya, batasan tersebut adalah evaluasi, pengukuran, dan tes. Ketiga batasan ini mempunya hubungan yang sangat erat dan saling mendukung, dimana evaluasi merupakan proses dimana seorang guru menggunakan informasi yang diturunkan dari beberapa sumber informasi agar dapat mencapai tingkat keputusan dengan benar, yang informasinya diperoleh dari hasil pengukuran dan hasil pengukuran diperoleh dari tes.

Dilihat dari aspek bagaimana hasil suatu tes dan prosedur evaluasi pengukuran diinterpretasikan, dapt dibedakan menjadi acuan normatif (norm-referenced), acuan patokan (criterion f\referenced), acuan tujuan (objective-referenced measurement).

B. PEMANFAATAN MODEL-MODEL EVALUASI

Pada konteks pembelajaran, evaluasi pada umumnya berorientasi pada tujuan pendidikan yang di dalamnya mencakup beberapa macam tujuan termasuk tujuan pendidikan nasional,tujuan institusi,tujuan instruksional umum,dan tujuan instruksional khusus yang di dalamnya mengandung penampilan. Pada konteks yang lebih luas, evaluasi kurikulu, maupun evaluasi system bervariasi sesuai dengan pilihan dari evaluator itu sendiri. Pada konteks yang lebih luas, misalnya evaluasi kurikulum atau system kelembagaan dikenal adanya macam-macam model evaluasi yang digunakan untuk memudahkan pemahaman tentang evaluasi. Dengan memeplajari secara intensif tentang model, seorang evaluator dapat lebih mudah memahami dan kemudian mengembangkan evaluasi dalam konteks yang lebih luas yaitu di bidang pendidikan.

Model evaluasi muncul karena adanya usaha eksplanasi secara kontinu yang diturunkan dari perkembangan pengukuran dan keinginan manusia untuk berusaha menerapkan prinsip-prinsip evaluasi pada cakupan yang lebih abstrak termasuk pada bidang ilmu pendidikan, perilaku dan seni. Minimal ada lima macam model yang dapat dikembangkan sebagai acuan perkembangan model evaluasi saat ini. Kelima model ini, antara lain:

1. Model Tyler;

2. Model evaluasi sumatif dan formatif;

3. Model Countenance;

4. Model Context Input Process Product;

5. Model Connoisseurship atau model ahli.

C. PENYIAPAN TUJUAN INSTRUKSIONAL

Telah dikatakan sebelumnya bahwa evaluasi pada umumnya berorientasi pada tujuan pendidikan yang di dalamnya mencakup beberapa macam tujuan si antaranya adalah tujuan instruksional. Tujuan instruksional minimal memberikan tiga manfaat besar, yaitu:

1. Memberikan arahan bagi guru dalam merencanakan proses belajar mengajar kepada siswa;

2. Merupakan media yang dapat digunakan untuk menyampaikan apa yang telah guru lakukan pada orang lain yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran;

3. Memberikan basis untuk melakukan evaluasi pembelajaran pada para siswa.

Dalam konteks evaluasi pndidikan, tujuan memiliki posisi penting, minimal dalam empat hal berikut, antara lain:

1. Merupakan petunjuk dalam bertindak;

2. Memotivasi perilaku siswa untuk tetap dapat menguasai materi yang diberikan guru;

3. Tujuan memberikan basis untuk memecahkan permasalahan sesuai dengan tingkat pengetahuan siswa;

4. Tujuan merupakan prasyarat seorang guru dalam melakukan penilaian, tanpa mengetahui apa tujuan instruksional dan apa kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran mestinya tidak perlu ada evaluasi yang dilakukan.

Tujuan pendidikan merupakan saringan dan pernyataan kehendak dari beberapa pihak yang berkepentingan termasuk dari pemerintah, lembaga atau yayasan dan sebagainya. Tujuan pendidikan juga disebut sebagai aims atau educational goal yang merupakan tujuan pendidikan yang dinyatakan secara luas, dan memerlukan kerja dalam jangka waktu yang panjang.

Tujuan instruksional umum merupakan tujuan yang dinyatakan dalam batasan umum dan guna mengarahkan keberadaan tujuan belajar yang lebih spesifik. Tujuan umum ini memberikan arahan kepada guru, misalnya dalam macam-macam metode, dan cara evaluasi yang tepat, agar tujuan belajar yang lebih spesifik dapat dikembangkan.

Tujuan instruksional khusus merupakan tujuan dalam proses belajar mengajar yang dinyatakan dalam tingkat operasional, dengan beberapa indicator ketercapaian, seperti spesifik, dapat diobservasi, dan dapat diukur keberhasilannya. Agar dapat diukur secara objektif, tujuan instrukdional khusus memiliki kriteria SMART, yaitu:

1. Spesific;

2. Measurable;

3. Achieveable;

4. Reliable;

5. Time Bounding.

Menurt Bloom, dkk, tujuan instruksional dalam proses pembelajaran pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis domain atau ranah, yaitu:

1. Domain Kognitif;

2. Domain Afektif;

3. Domain Psikomotorik.

Selain kelebihan yang dimiliki, kelemahan utama dalam menyusun tujuan perilaku atas dasar tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus adalah bagaimana mengetahui kapasitas seorang siswa setelah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya, termasuk berapa tujuan yang diperlukan sebelum tujuan instruksional disusun.

D. PARTISIPASI SISWA DALAM EVALUASI

Dalam menyiapkan tujuan instruksional dalam proses belajar mengajar, Gronlund dan linn (1990: 24) menyatakan ada empat macam batasan penting yang perlu diperhatikan oleh seorang evaluator, antara lain:

1. Educational Goal (tujuan pendidikan);

2. General Instructional Objectives;

3. Specific Learning Outcome;

4. Pupil Performance (penampilan siswa).

Evaluasi dapat dilakukan oleh seorang evaluator melalui dua cara yakni melalui tes dan nontes. Evaluasi melalui tes dapat dilakukan atas:

1. Tes diagnostic;

2. Achievement test;

3. Tes penempatan.

Sedangkan evaluasi melalui nontes dapat dibedakan atas:

1. Scoring;

2. Questionaires (angket);

3. Wawancara;

4. Observasi;

5. Dokumentasi.

Evaluasi tidak hanya dilakukan oleh seorang evaluator saja. Akan etapi, juga dapat dilakukan oleh dua orang evaluator atau lebih. Hal ini biasa juga disebut dengan evaluasi bersama.

E. MENYIAPKAN TES ESAI

Suatu bentuk tes dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu tes tertulis dan tes lisan.

a. Tes tertulis merupakan sekumpulan item pertanyaan yang direncanakan oleh guru maupun para evaluator secara sistematis, guna memperoleh informasi tentang siswa.

b. Tes lisan merupakan sekumpulan item pertanyaan dan atau pertanyaan yang disusun secara berencana.

Tes tertulis dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu tes esai dan tes objektif. Pada kesempatan ini pembahasan akan difokuskan pada tes esai. Tes esai adalah salah satu bentuk tes terulis, yang sususnannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berfikir siswa. Tes esai dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: tes esai jawaban panjang dan tes esai jawaban pendek. Tes esai dikatakan engan jawaban panjang , apabila dalam aplikasi tes memerlukan jawaban siswa secara luas. Dan dikatakan sebagai jawaban terbatas apabila dalam menjawab para siswa hanya diminta menguraikan ide-idenya secara singkat dan tepat sesuai dengan spasi atau ruang yang disediakan oleh para evaluator.

Untuk meningkatknan mutu pertanyaan esai ada dua hal penting yang harus diperhatikan oleh evaluator yaitu:

a. Bagaimana mengontruksi pertanyaan esai yang mengukur perilaku yang direncanakan?

b. Bagaimana menskor jawaban yang diperoleh dari siswa?

Salah satu kelebihan tes esai dalam evaluasi pendidikan adalah bahwa tes esai merupakan tes yang memiliki kemampuan dalam menginterpretasikan data melalui jawaban yang diberikan oleh para siswa.

F. MENGONSTRUKSI TES OBJEKTIF JENIS ISIAN

Tes objektif jenis isian pada prinsipnya mencakup tiga macam tes yaitu:

a. Tes jawaban bebas atau terbatas,

b. Tes melengkapi

c. Tes asosiasi

Tes jawaban bebas mengungkapkan kemampuan siswa dengan cara bertanya, tes melengkapi mengungkap kemampuan siswa melalui memberikan spasi atau ruang kosong untuk diisi siswa dengan kata yang tepat, dan tes asosiasi mengungkap kemampuan para siswa dengan menyediakan spasi yang diisi dengan satu jawaban atau lebih, dimana jawaban tersebut masih memiliki keterkaitan dan bersifat homogen antara satu dengan lainnya. Ketiga tes tersebut mempunyai banyak kemiripan khususnya dalam tiga hal yaitu:

a. masing-masing tes memerlukan hafalan dari para siswa

b. ketiga tes tersebut masing-masing menuntut jawan singkat dari para siswa

c. masing-masing tes pada umumnya direncanakan untuk mengungkap pemikiran siswa tentang materti pembelajaran yang dikategorikan sebagai defenisi atau batasan, pengetahuan tentang fakta dan prinsip-prinsip pengetahuan.

Mengontruksi item tes, baik jenis tes isian maupun jenis pilihan merupakan langkahtrang yang harus dikuasai dengan baik oleh seorang guru kelas. Halini terjadi karena validitas tes objektif jenis isian dan pilihan pada umumnya tergantung pada kualitasisi dan tampilan sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengontruksi tes yang dimaksud. Sedangkan item jenis asosiasi sering disebut tes identifikasi, karena pada proses evaluasi para siswa diminta menghubungkan atau mengidentifikasi satu konsep dengan konsep lainnya. Item tes asosiasi dapat digunakan untuk mengungkap kemampuan siswa tentang hasil produksi dan penggunaan atau manfaatnya. Oleh karena itu, tes ini juga sangat baik untuk mendukung terbentuknya kemampuan siswa agar memiliki kompetensi dalam mengingat kegunaan dan fungsi alat-alat perlengkapan kerja dalam kondisis nyata.

G. MENGONSTRUKSI TES PILIHAN GANDA

Tes objektf tipe pilihan pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk yaitu:

a. Jawaban dua alternative betul-salah

b. Item tes menjodohkan

c. Item tes pil;ihan ganda

Item tes betul-salah secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu item tes bentuk regular atau tidak dimodifikasi dan item tes bentik modifikasi. Item tes menjodokan termasuk dalam kelompok tes objektif. Secara fisik, bentuk item tes menjodohkan terdirir atas dua kolom yang sejajar pada kolom pertama berisi pernyataan yang disebut daftar stimulus dan kolom kedua berisi kata atau frasa yang disebut juga daftar respon atau jawaban. Sedangkan tes item pilihan ganda merupakan jenis tes objektif yang paling banyak digunakan oleh para guru. Tes ini dapat mengukur pengetahuan yang luas dengan tingkat domain yang bervariasiitem tes pilihan ganda juga dapat digunakan untuk mengukur batasan atau definisi pengetahuan yang sudah jelas.

Sebagian para ahli mengatakan bahwa item tes objektif tipe pilihan akan lebih efektif penggunaannya dalam mengukur hasil belajar peserta didik. Karena dengan menggunakan tes objektif tipe pilihan, bisa menggungkap materi pembelajaran yang lebih luas. Item pilihan ganda pada prinsipnya terdiri atas pokok persoalan dan daftar pilihan yang dianjurkan untuk diisi oleh siswa yang hendak dievaluasi. Penilaian item tes palihan ganda pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu penilaian dengan memperhitungkan jawaban salah dan penilaiaan dengan tidak memperhitungkan jawan yang salah. Item tes pilihan tepat digunakan jika dalam persoalan tersebut hanya ada satu jawaban yang benar, sisanya atau tiga lainnya disebut sebagai jawaban alternatif salah.

H. ANALISIS ITEM

Item analisis merupakan bagian integral dari validitas dan rehabilitas sebuah tes, item analisis ini dilakukan oleh seorang evaluator,Biasanya sesudah semua item yang telah diberikan pada siswa dikembalikan dan skornya sudah ditentukan.Disamping itu ketika hendak melakukan analisis item pada suatu tes sebaiknya kita memperhatikan apakah tes yang hendak dianalisis direncanakan mengacu pada bentuk tes normatif atau pada bentuk tes criterion karena analisis item yang digunakan dalam normatif pada prinsipnya tidak secara langsung dapat dipakai pada tes yang berbentuk kriterion.

Anlisis item pada tes normatif mempunyai dua aspek utama yaitu pertama, Tingkat kesulitan item merupakan angka yang menunjukkan proporsi siswa yang menjawab betul dalam suatu soal yang dilakukan dengan menggunakan tes objektif. Kedua, Indeks pembeda merupakan kemampuan suatu soal atau item dalam membedakan antara siswa yang pandai atau berhasil dengan siswa yang kurang berhasil atau bodoh. Sedangkan analisis item pada tes kriterion pada dasarnya juga melihat setiap item atas dasar tingkat kesulitan dan indeks pembeda. Tingkat kesulitan untuk tes criterion ditentukan oleh hasil belajar yang ingin diukur.Dan pada indeks pembeda Kemampuan item tes digunakan untuk membedakan antara siswa yang menjawab benar dalam kelompok tinggi dan siswa yang menjawab benar dalam kelompok rendah.

I. ALAT UKUR NONTES

Alat ukur nontes pada prinsipnya adalah pemberian jawaban atas dasar revelensi dan bentuk laporan yang berasal dari pendapat pribadi siswa setelah mereka mengerjakan tugas yang diberikan.

Alat ukur Evaluasi Diri

Alat ukur nontes ini sangat berguna,terutama pad evaluasi hasil pembelajaran yang berkaitan erat dengan kualitas pribadi, danketerampilan yang hanya tepat dievaluasikan melalui penampilan sebagai efek pengusuhaan domain keteranpilan.

Alat ukur rating, menurut Freeman (1962)dan Grundlund & Linn(1985)dapat dibedakan menjadi dua, yaitu rating dengan cara numeric atau scoring pada umumnya digunakan oleh para guru atau Evaluator untuk mengevaluasikan siswa dengan mdel titik, tingkat ,atau pada skala dengan acuan langsung.Sedangkan alat ukur nontes dengan model Ranking digunakan oleh para guru sebagai evaluator untuk mengatur nama siswa secara berurutan, denga mempertimbangkan status atau posisi siswa dalam karakter spesifik yang diperlukan., misalnya tertinggi, terata, dan terendah.

Alat ukur Rating

Secara umum,fungsi utama alat rating dapat digunakan dalam mengevaluasikan kualitas pribadi siswa,dan mamberikan penghargaan proses serta produk yang dihasilkandari hasil pembelajaran siswa. Selain itu alat ukur rating dapat dikelompokkan menjadi tiga macam bentuk, yaitu :

a. Daftar lis(check list) adalah salah satu alat evaluasi yang termasuk alat ukur rating.Alat ini banyak digunakan oleh para guru karena ada dua alasan,yaitu alat ini paling sederhana cara pembuatannya, selai penggunaannya juga mudah sehingga dengan sedikit mandapat trening, guru sudah bias menggunakannya.

b. Skala rating (SR ) merupakan alat ukur keterampilan yang asih juga tergolong alat ukur nontes.seperti alat ukur daftar lis, alat ukur ini juga sudah lama digunakan dibidang evaluasi pendidikan.

c. Alat ukur kartu-karu skor banyak digunakan dalam pendidikan pada umumnya, dan dan juga pada pendidikan kejuruan.

Bentuk-Bentuk laporan

Ada tiga macam teknik evaluasi yang sering digunakan untuk menilai bentuk laporan kerja proyek, yaitu laporan proyek,log, dan laporan kegiatan.pada evaluasi dalam bentuk-bentuk laporan ,pada umumnya guru dihadapkan pada informasi seorang siswa yang bersangkuatan disbanding dengan penilaian diatas.

J. PENENTUAN NILAI ATAU GRADE

Penentuan nilai atau grade diartikan sebagai derajat atau angka yang merupakan bagian program instruksional di sekolah, dan menggambarkan kinerja siswa dalam periode satu tahun.

Makna Grade Hasil Belajar

Penentuan grade dengan penilaian skor dari suatu hasil evaluasi pada prinsipnya hampir sama. Jika penentuan grade biasanya dilakukan setelah beberapa kali evaluasi atau gabungan skor yang dicapai setiap siswa dalam mengikuti proses evaluasi, maka skor penilaian merupakan hasil yang dicapai siswa hanya untuk satu kali evaluasi saja.

Mempertimbangkan Perbedaan Individual

Siswa yang pandai secara akademik, memiliki kecendrungan dapat mengerjakan dengan baik tes kertas dan pena, tes interpretif, pertanyaan problem solving, maupun tes dalam bentuk pertanyaan esay. Pada sisi lain, siswa yang lambat pada umumnya mengalami kesulitan dengan tes-tes tersebut, mereka lebih memerlukan tes yang mempu mengungkap kualitas pribadi atau personal qualiti, dalam hal ini dapat direalisasikan dengan kegiatan evaluasi, seperti laboraturium, dan pekerjaan rumah. Karena tujuan utama penentuan grade bukan hanya menunjukan kemampuan akademik saja, tetapi juga mampu mngungkap pengetahuan yang berasal dari aspek keterampilan dan kualitas personal secara proposiona.

Sistem Grade terdiri dari beberapa macam yaitu 1) Grade tunggal adalah sistem penentuan grade yang bentuknya paling sederhana dan paling banyak di gunakan. 2) Grade ganda atau multigrade adalah penentu skor yang terdiri atas ketentuan nilai hasil belajar 3) Grade kategorik merupakan sistem yang paling banyak digunakan di sekolah menengah atau perguruan tinggi adalah sistem grade dengan dua kategirik, yaitu lulus-tak lulus, memuslak-tidak memuska, lulus-gagal.

Bagi para guru yang mungkin memperoleh tugas untuk menyelenggarakan evaluasi pembelajaran, pada umumnya mereka melakukan beberapa tahapan sebagai berikut : a) persiapan, b) penyusunan instrumen evaluasi, c) pelaksanaan evaluasi, d) pengolahan hasil penilaian, dan e) pemberitahuan hasil akhir nilai atau grade.

K. EVALUASI DIAGNOSIS DAN REMEDI

Evaluasi diagnosis merupakan salah satu fungsi evaluasi yang memerlukan prosedur dan kompetensi yang lebih tinggi dari para guru sebagai evaluator. Jika para siswa secara terus-menerus tidak dapat menyerap informasi yang berupa nasihat perbaikan dan masih tetap gagal dalam menerima materi pembelajaran yang diberikan oleh guru, maka evaluasi diagnosis sebagai langkah akhir yang perlu disiapkan dari seorang evaluator. Untuk dapat membantu siswa, seorang guru perlu menentukan status perkembangan selama proses belajar mengajar di kelas dan memahami kesulitan belajar mereka. Kegiatan yang demikian disebut diagnosis pendidikan.

Remedial kelas merupakan pengelompokan siswa, khusus yang dipilih yang memerlukan pengajaran lebih pada mata pelajaran tertentu daripada siswa dari kelas biasa. Remedi tidak lain adalah termasuk kegiatan pengajaran yang tepat diterapan, hanya ketika kesulitan dasar para siswa telah diketahui.

Kegagalan pencapaian hasil belajar, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :1) Faktor penyebab intenal dianataranya kesehatan, problem penyesuaian diri. 2) Faktor Penyebab Eksternal diantaranya lingkungan, cara guru yang mengajar kurang baik, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar.

Tiga langkah penting dalam melakukan remedi, yaitu a) para siswa yang mengalami permasalahan belajar harus diberi pemahaman dalam benuk program-program yang di rencanakan dalam bentuk kegiata remedi. b) mereka yang mempunyai problem diidntifikasi dan dipilih kemudian diberi penjelasan secara intensif. c) materi belajar yang menjadi problem diungkap kembali dengan memberikan soal dan latihan yang mendukung tercapainya hasil belajar.


BAB III

PENUTUP


Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dapat dicapai, dan merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan, dan mengomunikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambilan keputusan. Yang pula dapat diartikan sebagai proses penilaian pertumbuhan siswa dalam proses belajar mengajar.

Kegiatan evaluasi dalam proses belajar mengajar mempunyai beberapa karakteristik penting, diantaranya :

  1. Memiliki implikasi tidak langsung terhadap siswa yang dievaluasi.
  2. Lebih bersifat tidak lengkap.
  3. Mempunyai sifat kebermaknaan relatif.

Proses evaluasi pun harus terintegrasi pada batasannya, batasan tersebut adalah evaluasi, pengukuran, dan tes. Ketiga batasan ini mempunya hubungan yang sangat erat dan saling mendukung, dimana evaluasi merupakan proses dimana seorang guru menggunakan informasi yang diturunkan dari beberapa sumber informasi agar dapat mencapai tingkat keputusan dengan benar, yang informasinya diperoleh dari hasil pengukuran dan hasil pengukuran diperoleh dari tes.

Pada konteks pembelajaran, evaluasi pada umumnya berorientasi pada tujuan pendidikan yang di dalamnya mencakup beberapa macam tujuan termasuk tujuan pendidikan nasional,tujuan institusi,tujuan instruksional umum,dan tujuan instruksional khusus yang di dalamnya mengandung penampilan. Pada konteks yang lebih luas, evaluasi kurikulu, maupun evaluasi system bervariasi sesuai dengan pilihan dari evaluator itu sendiri. Pada konteks yang lebih luas, misalnya evaluasi kurikulum atau system kelembagaan dikenal adanya macam-macam model evaluasi yang digunakan untuk memudahkan pemahaman tentang evaluasi. Dengan memeplajari secara intensif tentang model, seorang evaluator dapat lebih mudah memahami dan kemudian mengembangkan evaluasi dalam konteks yang lebih luas yaitu di bidang pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA


Sukardi, M. 2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Yogyakarta: Bumi Aksara.

Tim PEKERTI-AA PPSP LPP, 2007. Panduan Evaluasi Pembelajaran, Universitas Sebelas Maret.

1 komentar:

  1. Best Places To Bet On Boxing - Mapyro
    Where To Bet On jancasino.com Boxing. It's a sports betting event in 출장안마 which you bet on https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ the outcome of a 토토 game. In the boxing world, each player must decide if or not to 메이피로출장마사지

    BalasHapus